Kamis, 29 November 2007

Fwd: [Republika Online] Membangun Spiritualitas Anak



09 Maret 2007
Membangun Spiritualitas Anak
tri

Dengan terbiasa melibatkan anak diskusi, akan membantu anak untuk bisa berpikir pada tahapan lebih tinggi (meta-cognition). Sesungguhnya, proses seperti ini akan membuatnya menjadi manusia spiritual.

Anak bungsu kami paling senang kalau saya bekerja di rumah, atau tidak pergi ke kantor. Suatu saat ketika ia berumur 4 tahun saya pernah terserang flu berat sehingga tidak bisa ke luar rumah sampai seminggu. Saat itu terlontar kata-kata egoisnya Mama sakitnya yang lama saja, biar tidak bisa pergi ke kantor!

Menurut seorang pakar perkembangan moral, Thomas Lickona, anak-anak usia 3 - 5 tahun baru mencapai tahapan moral 0 (nol). Yaitu tahapan egosentris yang selalu berkata, I want it, therefore it's not fair if I don't get it Aku ingin itu. Maka tak pantas bila aku tidak mendapatkannya!
Adalah hal yang biasa bila anak-anak seusia itu bersikap pelit, tidak mau berbagi, bersifat manipulatif atau berbohong agar keinginannya tercapai.

Orangtua dan guru seringkali tidak mengerti akan tahapan moral ini. Mereka mengira bahwa anaknya akan egois selamanya, sehingga sering memarahi atau memukulnya. Hal ini dapat berakibat negatif pada perkembangan jiwanya. Orangtua perlu menyadari bahwa tahapan moral ini harus dilalui setiap anak dan ini tidak akan berlangsung lama. Saat anak menunjukkan sikap egois, harusnya menjadi momentum yang baik bagi orangtua untuk menumbuhkan sikap empati dengan mengajaknya berdiskusi. Ketika anak diajak berdiskusi tentang akibat dari sakit berkepanjangan, ia langsung berkata sambil memeluk saya, "Mama tidak boleh sakit lagi, Mama harus cepat sembuh". Sejak itu, ia tidak pernah lagi berharap ibunya sakit agar tidak bisa keluar rumah.

Setiap kejadian bisa dijadikan momentum yang baik untuk mendidik. Bahkan orang dewasa pun perlu belajar dari setiap kejadian atau kesalahan yang diperbuatnya. Cara yang terbaik untuk belajar adalah dengan menganalisis, mendiskusikan, dan merenungkan (reasoning), bukan dengan memarahi atau melarang dengan ancaman tanpa alasan yang jelas. Cara yang salah mungkin dapat membuatnya berubah, namun perubahan ini karena terpaksa (external control), bukan karena kesadaran sendiri ( internal control). Kontrol eksternal tidak efektif untuk membangkitkan kesadaran moral. Karena bila orangtua atau figur kontrol eksternal tidak ada, anak akan cenderung melanggar. Sedangkan kontrol internal adalah kesadaran moral dari dalam sebagai rem yang bisa mencegah seseorang dari perbuatan tidak baik, walau tidak ada yang mengawasinya.

Anak mencuri pun bisa dijadikan momen yang baik untuk menghidupkan internal control. Suatu ketika saya pernah kehilangan uang Rp 5.000. Saya tahu anak saya yang ketika itu berusia 7 tahun pasti mengambilnya, karena ia ingin membeli sesuatu yang tidak saya izinkan. Saya tidak langsung menuduhnya, tapi pura-pura bertanya apakah ia melihat uang tersebut. Ia tidak mengaku bahwa ia melihat uang tersebut, apalagi mengambilnya. Kemudian saya berkata bahwa kalau ia berbohong, pasti ada perasaan tidak enak di hati. "Apabila ada perasaan tersebut, itu adalah pertanda bahwa Allah yang ada di dalam hatimu sangat sayang sama kamu. Ia tidak mau kalau kamu berbohong. Perasaan tersebut akan membuat kamu gundah dan tidak bahagia. Dan yang paling tahu tentang perasaan kamu adalah dirimu sendiri". Setelah itu saya meninggalkannya agar ia bisa merenung.

Kira-kira 15 menit kemudian, ia mengetuk kamar saya sambil menangis dan memeluk saya, "Mama, maaf saya tadi berbohong. Saya yang mengambil uang tersebut". Saya katakan bahwa saya bangga sekali dengannya karena telah berhasil memenangkan nuraninya, sehingga nuraninya dapat menerima getaran Cahaya Allah. Saat itulah saya menerangkan arti nurani yang dapat menjadi petunjuk kita ke jalan yang benar.

Saya membayangkan anak-anak yang pernah coba-coba mencuri, dan mendapatkan hukuman dari orangtuanya. Saat itu kesempatannya untuk menumbuhkan nurani akan hilang, karena hati si anak menjadi mengkerut, sehingga menutup pintu nuraninya. Semakin sering anak dihardik atau dihukum, hati anak semakin keras dan bisa membantu.

Menurut Vygotsky, dengan melibatkan anak berdiskusi dan berpikir (reasoning) dalam mempelajari segala kejadian, akan mendorong anak untuk merefleksikan apa yang telah dikatakan atau diperbuatnya. Hal ini dapat menjadi " inner speech" atau "inner dialogue", dialog dengan dirinya sendiri. Inilah proses awal bagi anak untuk mengetahui tentang dirinya sendiri. Selanjutnya, dikemudian hari ia akan mampu mengevaluasi diri, menganalisis kekurangan serta kekuatan yang dimiliknya. Dengan terbiasa melibatkan anak diskusi, akan membantu anak untuk bisa berpikir pada tahapan yang lebih tinggi atau meta-cognition. Proses seperti ini dapat membuatnya menjadi manusia spiritual, yaitu manusia yang tahu siapa dirinya, dan mempunyai kesadaran bahwa dirinya adalah bagian dari masyarakat, komunitas dan alam semesta. Orang seperti ini mampu mengontrol tindakannya agar senantiasa membawa kebaikan, dan tidak membuat kerusakan pada lingkungannya.Ratna Megawangi


Berita ini dikirim melalui Republika Online http://www.republika.co.id
Berita bisa dilihat di : http://www.republika.co.id/Cetak_detail.asp?id=285600&kat_id=105



--
Silakan, kunjungi website (blog) saya ini :
http://yahumairah.blogspot.com